PENDAPAT UMUM DAN PROPAGANDA
“PROPAGANDA
DAN MEDIA MASSA”
Kelompok 4 : DESI APRIANI
IWAN SETIAWAN
IKA NURUL
AZIZAH
Kelas/Jurusan :
R1.B Komunikasi/ Jurnalistik
Universitas
Serang Raya 2014
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah, merupakan satu kata yang sangat pantas penulis ucakan kepada Allah STW, yang karena bimbingannyalah maka kami bisa menyelesaikan makalah berjudul "Propaganda dan Media Massa".Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas Pendapat Umum dan Propaganda.
Kami mengucapkan terimakasih kepada pihak yang membantu dalam penyelesaian makalah ini.Kami menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini.Oleh karna itu kami mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.Terima kasih, dan semoga makalah ini bisa memberikan sumbangsih positif bagi kita semua.
Cilegon, Desember 2014
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Propaganda dan
media massa memang tak bisa terpisahkan, lewat media massa inilah kemudian
propaganda bisa terlaksana dengan baik terlepas itu oleh media audio, visual,
ataupun audio visual.
Media
massa memang memiliki pengaruh yang sangat sentral dalam pembentukan opini
publik sehingga dalam hal ini informasi yang diberikan dapat mempengaruhi
keadaan komunikasi sosial pada masyarakat. Masyrakat yang tidak tahu apa-apa
banyak yang menelan mentah-mentah berbagai informasi yang diberitakan pada
sebuah media, padahal di sisi lain berita tersebut ada kemungkinan memiliki
ketimpangan yang harus diverifikasi.
Berbagai
informasi yang kemudian masuk tanpa mengindahkan sisi objektivitas itulah yang
kemudian menjadi permasalahan.Propaganda yang tak berimbang tentunya memiliki
kepentingan-kepntingan yang biasanya berkenaan dengan kepentingan politik,
bertujuan untuk menjatuhkan figur atau tokoh-tokoh tertentu dan berusaha
menaikan pamor tokoh tertentu.
Sebagai
gambarannya adalah ketika Pemilu berlangsung para kontestan dengan menggunakan
media berusaha mepromosikan dirinya melalui partai yang mengusungnya.Dengan
begitu mereka berusaha mempropagandakan dirinya agar mendapat simpati
masyarakat sehingga banyak yang memilih.
Kemudian
untuk memperoleh suara yang banyak, tak sedikit diantara mereka yang melakukan
praktik Black Propaganda.Menggunakan cara-cara yang licik dengan menghasut dan
mengadu domba.Tak ayal denngan propaganda jenis ini terberssit sebuah istilah
“lempar batu sembunyi tangan”.
Pelaksanaan
Pemilu memang rawan dengan berbagai kegiatan Propaganda utamanya yang berbau
negatif. Segala cara yang bisa ditempuh digunakan demi memenangkan pemilihan
terlepas dengan jalur yang terhormat (positif) dan tidak terhormat (negatif).
Selain
pelaksanaan pemilu diatas, Propaganda yang sering dilancarkan media pada dewasa
ini ialah mengenai pemberitaan Islam dan teroris.Islam dan teroris seolah
menjadi satu paket yang terus diliput oleh media, utamannya Barat. Sehingga
terjadilah opini publik yang mengartikan Islam sebagai agama yang keras,
bengal, dan barbar yang menghasilkan partisipan terorisme belaka.
BAB II
PEMBAHASAN
PROPAGANDA
Propaganda
merupakan salah satu bentuk komunikasi massa. Propaganda sendiri berasal dari
kata propagare artinya menyebar, berkembang, mekar.Carl I Hovlan menambahkan
bahwa propaganda merupakan usaha untuk merumuskan secara tegar azas-azas
penyebaran informasi serta pembentukan opini dan sikap. Propaganda timbul dari
kalimat sacra congregatio de propaganda fideatau dari kata Congregatio de
propaganda fide atau Congregation for the Propagandation of Faith tahun 1622
ketika Paul Grogelius ke 15 mendirika organisasi yang bertujuan mengembangkan
dan mengembangkannya agama katolilk Roma di Italia dan Negara lain.
Karya
Klasik Lasswell, Propaganda Technique in the World war (1927) mengajukan salah
satu usaha hati-hati yang pertama kali mendefenisikan Propaganda: “Propganda
semata merujuk pada control opini dengan symbol-simbol penting, atau berbicara
secara lebih konkret dan kurang akurat melalui cerita, rumor, berita, gambar,
atau bentuk-bentuk komunikasi social lainnya. (Seperti yang di kutip oleh
Werner J. Severin –Jamesa W Tankard ,Jr. Teori Komunikasi, dalam Teori Komunikasi:
Sejarah, Metode, Terapan di Dalam Media Massa. Hal.128)
Kata
‘propaganda’ berasal dari bahasa Latin.Awalnya berarti ‘gagasan untuk
disebarkan ke sekeliling’. Namun dalam Perang Dunia I, artinya berubah menjadi
‘gagasan politik yang ditujukan untuk menyesatkan’ (Wikkipedia)
Selain
itu juga tokoh-tokoh komunikasi dan para ahli yang lainnya mencoba memberikan
defenisi propaganda, diantaranya:
-
Enclyclopedia International
Propanda
adalah suatu jenis komunikasi yang berusaha mempengaruhi pandangan dan reaksi,
tanpa mengindahkan tentang nilai benar atau tidak benarnya pesan yang
disampaikan.Arti dari propaganda dikemukan sebagai konsep popular yang
cenderung menumbuhkam suatu kecurigaan dan rasa takut terhadap kekuatan
dipropaganandis.
-
Enclyclopedia berbahasa Indonesia On Line (wikkipedia).
Propaganda
ialah sebuah informasi. Informasi itu telah dirancang agar orang merasakan cara
tertentu atau mempercayai sesuatu. Infomasi itu biasanya bersifat politik.
-
Lasswell
Propaganda
dalam arti yang luas, adalah tekhnik untuk mempengaruhi kegiatan manusia dengan
memanifulasikan sepresentasinya (representasi dalam hal ini berarti kegiatan
atau berbicara untuk suatu kegiatan kelompok).
-
Barnays
Propaganda
modern adalah suatu usaha yang bersifat konsisten dan terus menerus untuk
menciptakan atau membentuk peristiwa-peristiwa guna mempengaruhi hubungan
public terhadap suatu uasha atau kelompok.
-
Drs. R.A Santoso Sastropoetro
Propaganda
adalah suatu penyebaran pesan yang terlebih dahulu telah direncanakan secara
seksama untuk mengubah sikap, pandangan, pendapat dan tingkah laku dari
penerimaan komunikan sesuai dengan pola yang telah ditetapkan oleh komunikator.
·
Unsur-unsur Propaganda
Adapun
mengenai unsur-unsur yang terdapat pada propaganda sehingga terbentuk sebuah
komunikasi adalah sebagai berikut:
a. Adanya
komunikator, penyampaian pesan.
b. Adanya
Komunikan atau penerima pesan/ informasi.
c. Kebijaksanaan
atau politik propaganda yang menetukan isi dan tujuan yang hendak dicapai.
d. Pesan
tertentu yang telah di-“encode” atau dirumuskan sedemikian rupa adar mencapai
tujuannya yang aktif.
e. Sarana
atau medium (media), yang tepat dan susuai atau serasiu dengan situasi dari
komunikan.
f. Teknik
yang seefektif mungkin, yang dapat memberikan pengaruh yang secepatnya dan
mampu mendorong komunikan melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginan atau
pola yang ditentukan oleh komunikator.
g. Kondisi
dan situasi yang memungkinkan dilakukannya kegiatan propaganda yang
bersangkutan.
·
Teknik Propaganda
a. Name-Calling
:Propagandis menyentuh simbol-simbol emosional kepada seseorang atau sebuah
negara. Targetnya diharapkan merespon sesuai
yang dikehendaki propagandis
tanpa perlu memeriksa
lagi atau mencari
bukti-bukti. Dengan demikian propagandis melancarkan semacam
stereotipe kepada sasarannya.Dalam hal
ini muncul istilah komunis menjadi “merah”, pemimpin buruh menjadi “bos
serikat buruh” dan pemeritah konstitusional menjadi klik pemerintah.
b. Glittering
Generality :Ini mirip dengan teknik
nomor pertama namun digunakan untuk melukiskan sebuah gagasan atau
kebijakan bukannya individu. Istilah “dunia bebas” (free world)
adalah generalitas favorit
propagandis Barat. Sedangkan
“solidaritas sosialis”
dipakai dunia komunis
untuk menggambarkan hubungan
kompleks diantara negara dan partai
komunis. Sementara itu “jiwa Afrika” (the African soul) diharapkan mencipta citra
kekuatan dan persatuan.
c. Transfer
:Porpagandis berusaha mengidentifikasikan sebuah gagasan, pribadi, negara atau
kebijakan dengan hal lain untuk membuat sasaran propaganda setuju atau tidak
setuju. Salah satu caranya
adalah membangkitkan kebencian
sikap rakyat beragama terhadap
komunis yang menyamakan
dengan ateisme. Komunis biasanya menyamakan kapitalis dengan
dekadensi (kemerosotan) dan anti semit dengan
harapan menciptakan dukungan
publik karena menyamakan
yahudi dengan komunis.
d. Plain
Folks :Propagandis sadar bahwa masalah mereka terhambat jika mereka tampak di
mata audiensnya sebagai “orang
asing”. Oleh sebab
itu mereka berusaha mengidentifikasikan sedekat
mungkin dengan nilai
dan gaya hidup
sasaran propaganda dengan menggunakan slang, aksen dan idiom lokal.
e. Testimonial
:Di sini
propagandis menggunakan pribadi atau
lembaga yang dapat dipercaya
untuk mendukung atau mengkritik sebuah gagasan atau kesatuan politik. Variasi dari
propaganda ini adalah
“mengkaitkan dengan yang
memiliki wibawa/kekuasaan”
dimana sasaran propaganda
akan mempercayai sesuatu karena sesuatu yang memiliki
“otoritas” mengatakan hal itu.
f. Selection
:Hampir semua propagandis bahkan ketika menggunakan teknik lain seperti diulas
sebelumnya tergantung pada seleksi fakta, meskipun jarang sangat spesifik
dalam isi faktanya. Ketika presentasi
rinci diberikan, propagandis menggunakan hanya fakta-fakta yang tersedia untuk
“membuktikan” sasaran yang telah ditentukannya.
MEDIA
MASSA
Media
massa atau Pers adalah suatu istilah yang mulai dipergunakan pada tahun 1920-an
untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk mencapai
masyarakat yang sangat luas. Kata media berasal dari bahasa latin Medius yang
secara harafiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Sedangkan kata massa
menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) ialah sejumlah besar benda (zat
dsb) yg dikumpulkan (disatukan) menjadi satu (atau kesatuan). Dalam pembicaraan
sehari-hari, istilah ini sering disingkat menjadi media.
Masyarakat
dengan tingkat ekonomi rendah memiliki ketergantungan dan kebutuhan terhadap
media massa yang lebih tinggi daripada masyarakat dengan tingkat ekonomi tinggi
karena pilihan mereka yang terbatas. Masyarakat dengan tingkat ekonomi lebih tinggi
memiliki lebih banyak pilihan dan akses banyak media massa, termasuk bertanya
langsung pada sumber/ ahli dibandingkan mengandalkan informasi yang mereka
dapat dari media massa tertentu.
PROPAGANDA
DAN MEDIA MASSA
Tidak
dapat disangkal lagi bahwa media sangat berperan dalam kegiatan propaganda.
Mengingat propaganda merupakan kegiatan komunikasi untuk mempengaruhi massa,
media yang paling tepat digunakan sebagai wahana untuk mencapai tujuan
propaganda adalah media massa.
Berbagai
hal mengenai cara bekerjanya media dalam kampanye propaganda dibahas dalam
bagian ini, meliputu fungsi media massa sebagai saluran penting propaganda,
peran media massa dalam kegiatan propaganda, pemimpin opini dan propagandis
ditengah media massa.
·
Fungsi Media Massa sebagai Saluran
Propaganda :
1. Fungsi
pendidikan dan memberikan informasi mendidik dan berguna bagi masyarakat.
2. Fungsi
hiburan yang dapat memberikan kesenangan bagi masyarakat.
3. Fungsi
pewaris atau sebagai nilai-nilai social dan budaya integrasi
4. Fungsi
pengawasan yang dapat membantu masyarakat mengawasi kehidupan social
disekitarnya.
·
Peran media massa dalam Komunikasi
Propagandistik
Saluran
yang berperan dalam penyampaian pesan propaganda dan pesan politik meliputi
media cetak dan media elektronik termasuk radio, televise, dan internet, serta
Koran dinding, poster, spanduk, pamphlet, brosur bahkan demonstrasi, rapat
umum, pagelaran kesenian dan kebudayaan serta kesusastraan, media tradisional,
lobbying, dan rumor.
Kegiatan
propaganda kerap melibatkan peran media massa karena media massa memiliki
kelebihan dalam menampilkan daya pengaruh yang kuat dan jangfkauan siaran yang
luas. Kedua hal ini sangat penting bagi kegiatan propaganda, khusunya
propaganda politik , social, dan ekonomi. Peran media massa yang sedemikian ini
terbukti dalam sepanjang sejarah. Menurut catatan sejarah, media massa Jerman
pada era Nazi cukup penting perannya dalam membentuk propaganda yang
dilancarkan oleh Adolf Hitler.
·
Pemimpin Opini dan Propagandis ditengah
Media Massa
·
Prinsip Propaganda di Media Massa
Tentu
saja untuk mengefektifkan propaganda politik di media massa juga sangat perlu
memperhatikan beberapa prinsip-prinsip umum yang diturunkan dari riset mengeni
pengaruh komunikator dalam keberhasilan usaha persuasif (Dan Nimmo, 1993) :
Pertama
status komunikator.Artinya setiap peran membawa status atau prestise
tersendiri. Secara umum, semakin tinggi posisi atau status seseorang di tengah
masyarakat, makan akansemakin mampu dia melakukan persuasi. Dengan demikian
pemilihan propagandis terutama dalam media massa yang diorientasikan mencapai
khalayak yang heterogen membutuhkan mereka yang punya status kuat. Misalnya
saat Orde Baru, Soeharto merupakan propagandis konsep developmentalism,
sementara era Orde Lama Soekarno menjadi propagandis dari tujuan revolusi.
Kedua
kredibilitas komunikator. Sasaran propaganda mempersepsi para komunikator
dengan beberapa cara. Sejauh mereka mempersepsi bahwa propagandis itu memiliki
keahlian, kompetisi, keandalan, dapat dipercaya dan autoritas, mereka menganggap
bahwa komunikator itu kredibel. Memang pada perkembangnnya khalayak media,
dalam menerima pesan juga membedakan antara apa yang dikatakan dengan
kredibiltas sumbernya.
Ketiga,
daya tarik komunikator, hal ini meningkatkan daya tarik persuasif. Hal ini
terutama berlaku pada homofili, yakni tingkat kesamaan usia, latarbelakang dll
seperti dipersepsi orang. Persuasi itu sebagian besar berhasil bila orang
mempersepsi komunikator seperti dirinya sendiri secara gamblang.Karena persuasi
dalam hal ini propaganda politik merupakan upaya penyebaran informasi dan
pengaruh satu-kepada-banyak maka instrumen teknologi yang dapat menyebarkan
pesan kepada angota kelompok merupakan hal yang tepat dilakukan.Goebbels, dalam
memikirkan strategi kampanye persuasifnya membedakan haltung yang mempengaruhi
prilaku, sikap dan perbuatan orang.Sementara stimmung merupakan morel mereka,
penerimaan dan retensi imbauan persuasif.
Berbagi
pesan propagandis berhubungan dengan keefektifannya dua hal. Pertama isi pesan,
hal ini menyangkut model pilihan isi yang dikemukakan dalam propaganda di media
massa. Bisa jadi isi yang mengancam orang (isi membangkitkan rasa takut) akan
mempersuasi kalayak dalam kondisi tertentu. Kedua struktur pesan, bisa jadi
karena ,media yang dipakai adalah media massa yang memiliki keterbatasan waktu
atau tempat menyebabkan penyusunan struktur pesan yang efektif dan efesien.
Namun terlepas dari segala keterbatasan waktu dan tempat, propaganda di media
massa bisa dilakukan secara terus-menerus sehingga menjadi suatu terpaan
(exposure). Misalnya, propaganda AS melawan terorisme disampaikan lewat
media-media yang berpengaruh secara internasional.Misalnya CNN, CBC, VOA
dll.Hal itu juga dilakukan dengan membuat agenda setting di media-media seluruh
dunia, mengukuhkan (reinforcement) kalau terorisme itu memang penggeraknya
adalah orang-orang timur tengah.
·
Contoh Propaganda dan Media Massa
Misalnya saja
dalam pelaksanaan pemilu beberapa media massa akan memberikan berita yang
mungkin tidak netral karena beberapa alasan:
Konflik
kepentingan dalam media massa karena pertimbangan pemasukan iklan.
Partai-partai politik bermodal besar menjanjikan akan memasang iklan, yang
berarti pemasukan uang besar untuk media, sehingga mereka cenderung untuk tidak
terlalu kritis terhadap potensi pelanggaran yang dilakukan partai bersangkutan.
Konflik
kepentingan dalam media massa karena pimpinan media massa menjadi
pengurus/simpatisan/atau pendukung parpol tertentu. Dalam Pemilu semasa Orde
Baru, misalnya, mayoritas pimpinan media massa adalah anggota Persatuan
Wartawan Indonesia (PWI) dan pendukung Golkar. Oleh karena itu, pemberitaan
mereka cenderung membesarkan Golkar dan mengecilkan partai lain. Kecenderungan
semacam ini masih besar kemungkinannya terjadi pada Pemilu selanjutnya.Apalagi
wartawan “bermental Orde Baru” ini sampai sekarang masih kuat bercokol di
organisasi jurnalis dan di medianya.
Konflik
kepentingan dalam media massa karena sebagian wartawan menjadi anggota,
pengurus atau pendukung partai politik tertentu (posisi ini bisa dengan restu
atau tanpa restu dari pemimpin media bersangkutan). Hal ini juga akan
mempengaruhi pemberitaan mereka.
Konflik
kepentingan dalam media massa karena pimpinan media bersangkutan ikut aktif
sebagai kandidat dalam Pemilu, baik untuk posisi anggota DPR, DPD ataupun
Presiden. Contoh yang paling menonjol adalah majunya Surya Paloh, pemimpin grup
penerbitan Media Indonesia dan Metro TV, sebagai calon Presiden RI melalui
Konvensi Partai Golkar. Sulit diharapkan, Media Indonesia dan Metro TV dapat
bersikap fair terhadap kandidat lain, tapi akhirnya Surya Paloh tidak terpilih
juga menjadi presiden.
Selain itu,
dengan menggunakan teori Agenda Setting media berusaha membuat penting sebuah
sajian informasi. Sehingga, menghasilkan masyarakat yang terpengaruh karena
dengan begitu pula masyarakat dapat dengan mudah saja mengikuti dan menyetujui
apa yang disampaikan dalam media massa.
Media massa
membuat penting isu-isu yang diangkat walaupun tak sepenuhnya dibutuhkan oleh
masyarakat. Dengan demikian masyarakat seolah membutuhkan pesan dan informasi
yang pada akhirnya mengubah pemikiran dan bahkan kebudayaan dalam masyarakat
tersebut.
Dalam kaitan
cara media menghubungkan masyarakat dan fakta sebenarnya (realitas), McQuail
menjelaskan media massa berperan sebagai:
Jendela
pengalaman yang meluaskan pandangan dan memungkinkan kita untuk mampu memahami
apa yang terjadi di sekitar kita, tanpa campur tangan pihak lain atau sikap
memihak. Juru bahasa yang menjelaskan dan memberi makna terhadap peristiwa atau
hal yang terpisah dan kurang jelas.Pembawa atau pengantar informasi atau
pendapat.Jaringan interaktif yang menghubungkan pengirim dengan penerima melalui
pelbagai macam umpan balik.
Papan penunjuk
jalan yang secara aktif menunjukkan arah, memberikan bimbingan atau
instruksi.Penyaring yang memilih bagian pengalaman yang perlu diberi perhatian
khusus dan menyisakan aspek pengalaman lainnya, baik secara sadar dan
sistematis maupun tidak.
Cermin yang memantulkan
citra masyarakat terhadap masyarakat itu sendiri; biasanya pantulan citra itu
mengalami perubahan atau distorsi karena adanaya penonjolan terhadap segi yang
ingin dilihat oleh para anggota masyarakat atau seringkali pula segi yang ingin
mereka hakimi atau cela.Tirai atau penutup yang menutupi kebenaran demi
pencapaian tujuan propaganda atau pelarian dari suatu kenyataan (escapism).Yang
terakhir ini seharusnya dihindari.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Media
massa dan Propaganda memang terkait satu sama lainnya. Media massa menjadi
unsur terpenting dalam kegiatan komunikasi propaganda untuk menjalankan
berbagai kepentingan tertentu. Kepentingan-kepentingan inilah yang kemudian
menjadi maslaah karena kerap kali disebarkan dengan tak berimbang
Kegiatan
Propaganda yang dipakai pada media massa dipakai dengan menggunakan cara agenda
setting dan berbagai tekniknya, biasanya dipakai dengan cara-cara yang kotor
seperti Black Propaganda pada pemilu misalnya. Pada perhelatan tersebut
Propaganda dipakai untuk meruntuhkan dan menjerumuskan lawan politiknya.
Hampir
sama dengan Propaganda di kancah politik, dalam melancarkan peperangan pun
kemudian Propaganda dipakai sebagai jalan untuk menciptakan kerusuhan, dan rasa
tidak percaya seorang pemimpin atau lembaga tertentu. Sebagai contohnya yang
lain, yakni ketika Amerika sedang mengadakan penyerangan terhadap Irak sebagai
usahanya untuk menciptakan kedamaian. Amerika menyuarakan Propagandanya
terhadap publik internasional dengan menuduh Saddam Husein (Presiden Irak)
sebagai seorang yang jahat, yang berusaha membuat bom pemusnah masal berupa
nuklir.Maka, Propaganda yang diusung Amerika ini ternyata berhasil walaupun
pada kenyataanny tuduhan bom tersebut tidak terbukti adanya.
Sehingga
dengan demikian penulis pun menyimpulkan bahwa media massa baik itu audio,
visual, ataupun audia visual merupakan jantung dari propaganda, yang dengannya
dapat merubah cara berpikir bahkan idieologi seseorang dan bahkan masyrakat
secara luas.
SARAN
Demikian
sentralnya media massa dalam mempengaruhi masyarakat hendaknya dibarengi dengan
informasi yang berimbang dengan tidak menjadikan Propaganda sebagai agenda
setting dalam sebuah media. Karena dengan Propaganda anggapan yang ada yang
sebenarnya fiktif bisa dipercaya begitu saja tanpa adanya verifikasi terlebih
dahulu.
Propaganda
di lain hal juga berisi hanya sebagai penyampai kepentingan-kepentingan
tertentu. Sehingga dengan demikian propaganda yang ada harus di waspadai dan
tidak begitu saja merangsek masuk pada media massa, yang pada akhirnya hanya
menjadikan media sebagai alat untuk mempengaruhi belaka.
DAFTAR
PUSTAKA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar