Minggu, 08 Februari 2015

TUGAS KULIAH

PENDAPAT UMUM DAN PROPAGANDA
“PROPAGANDA DAN MEDIA MASSA”
   

Kelompok 4                    : DESI APRIANI
              LAEVAN DESANTA
            IWAN SETIAWAN
       IKA NURUL AZIZAH
Kelas/Jurusan      : R1.B Komunikasi/ Jurnalistik


Universitas Serang Raya 2014


 KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah, merupakan satu kata yang sangat pantas penulis ucakan kepada Allah STW, yang karena bimbingannyalah maka kami bisa menyelesaikan makalah berjudul "Propaganda dan Media Massa".Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas Pendapat Umum dan Propaganda.
Kami mengucapkan terimakasih kepada pihak yang membantu dalam penyelesaian makalah ini.Kami menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini.Oleh karna itu kami mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.Terima kasih, dan semoga makalah ini bisa memberikan sumbangsih positif bagi kita semua.


                                                                                                            Cilegon,   Desember 2014


                                                                                                                        Penulis


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Propaganda dan media massa memang tak bisa terpisahkan, lewat media massa inilah kemudian propaganda bisa terlaksana dengan baik terlepas itu oleh media audio, visual, ataupun audio visual.
Media massa memang memiliki pengaruh yang sangat sentral dalam pembentukan opini publik sehingga dalam hal ini informasi yang diberikan dapat mempengaruhi keadaan komunikasi sosial pada masyarakat. Masyrakat yang tidak tahu apa-apa banyak yang menelan mentah-mentah berbagai informasi yang diberitakan pada sebuah media, padahal di sisi lain berita tersebut ada kemungkinan memiliki ketimpangan yang harus diverifikasi.
Berbagai informasi yang kemudian masuk tanpa mengindahkan sisi objektivitas itulah yang kemudian menjadi permasalahan.Propaganda yang tak berimbang tentunya memiliki kepentingan-kepntingan yang biasanya berkenaan dengan kepentingan politik, bertujuan untuk menjatuhkan figur atau tokoh-tokoh tertentu dan berusaha menaikan pamor tokoh tertentu.
Sebagai gambarannya adalah ketika Pemilu berlangsung para kontestan dengan menggunakan media berusaha mepromosikan dirinya melalui partai yang mengusungnya.Dengan begitu mereka berusaha mempropagandakan dirinya agar mendapat simpati masyarakat sehingga banyak yang memilih.
Kemudian untuk memperoleh suara yang banyak, tak sedikit diantara mereka yang melakukan praktik Black Propaganda.Menggunakan cara-cara yang licik dengan menghasut dan mengadu domba.Tak ayal denngan propaganda jenis ini terberssit sebuah istilah “lempar batu sembunyi tangan”.
Pelaksanaan Pemilu memang rawan dengan berbagai kegiatan Propaganda utamanya yang berbau negatif. Segala cara yang bisa ditempuh digunakan demi memenangkan pemilihan terlepas dengan jalur yang terhormat (positif) dan tidak terhormat (negatif).
Selain pelaksanaan pemilu diatas, Propaganda yang sering dilancarkan media pada dewasa ini ialah mengenai pemberitaan Islam dan teroris.Islam dan teroris seolah menjadi satu paket yang terus diliput oleh media, utamannya Barat. Sehingga terjadilah opini publik yang mengartikan Islam sebagai agama yang keras, bengal, dan barbar yang menghasilkan partisipan terorisme belaka.
 BAB II
PEMBAHASAN

PROPAGANDA
Propaganda merupakan salah satu bentuk komunikasi massa. Propaganda sendiri berasal dari kata propagare artinya menyebar, berkembang, mekar.Carl I Hovlan menambahkan bahwa propaganda merupakan usaha untuk merumuskan secara tegar azas-azas penyebaran informasi serta pembentukan opini dan sikap. Propaganda timbul dari kalimat sacra congregatio de propaganda fideatau dari kata Congregatio de propaganda fide atau Congregation for the Propagandation of Faith tahun 1622 ketika Paul Grogelius ke 15 mendirika organisasi yang bertujuan mengembangkan dan mengembangkannya agama katolilk Roma di Italia dan Negara lain.
Karya Klasik Lasswell, Propaganda Technique in the World war (1927) mengajukan salah satu usaha hati-hati yang pertama kali mendefenisikan Propaganda: “Propganda semata merujuk pada control opini dengan symbol-simbol penting, atau berbicara secara lebih konkret dan kurang akurat melalui cerita, rumor, berita, gambar, atau bentuk-bentuk komunikasi social lainnya. (Seperti yang di kutip oleh Werner J. Severin –Jamesa W Tankard ,Jr. Teori Komunikasi, dalam Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, Terapan di Dalam Media Massa. Hal.128)
Kata ‘propaganda’ berasal dari bahasa Latin.Awalnya berarti ‘gagasan untuk disebarkan ke sekeliling’. Namun dalam Perang Dunia I, artinya berubah menjadi ‘gagasan politik yang ditujukan untuk menyesatkan’ (Wikkipedia)
Selain itu juga tokoh-tokoh komunikasi dan para ahli yang lainnya mencoba memberikan defenisi propaganda, diantaranya:
- Enclyclopedia International
Propanda adalah suatu jenis komunikasi yang berusaha mempengaruhi pandangan dan reaksi, tanpa mengindahkan tentang nilai benar atau tidak benarnya pesan yang disampaikan.Arti dari propaganda dikemukan sebagai konsep popular yang cenderung menumbuhkam suatu kecurigaan dan rasa takut terhadap kekuatan dipropaganandis.


- Enclyclopedia berbahasa Indonesia On Line (wikkipedia).
Propaganda ialah sebuah informasi. Informasi itu telah dirancang agar orang merasakan cara tertentu atau mempercayai sesuatu. Infomasi itu biasanya bersifat politik.
- Lasswell
Propaganda dalam arti yang luas, adalah tekhnik untuk mempengaruhi kegiatan manusia dengan memanifulasikan sepresentasinya (representasi dalam hal ini berarti kegiatan atau berbicara untuk suatu kegiatan kelompok).
- Barnays
Propaganda modern adalah suatu usaha yang bersifat konsisten dan terus menerus untuk menciptakan atau membentuk peristiwa-peristiwa guna mempengaruhi hubungan public terhadap suatu uasha atau kelompok.
- Drs. R.A Santoso Sastropoetro
Propaganda adalah suatu penyebaran pesan yang terlebih dahulu telah direncanakan secara seksama untuk mengubah sikap, pandangan, pendapat dan tingkah laku dari penerimaan komunikan sesuai dengan pola yang telah ditetapkan oleh komunikator.
·         Unsur-unsur Propaganda
Adapun mengenai unsur-unsur yang terdapat pada propaganda sehingga terbentuk sebuah komunikasi adalah sebagai berikut:
a.       Adanya komunikator, penyampaian pesan.
b.      Adanya Komunikan atau penerima pesan/ informasi.
c.       Kebijaksanaan atau politik propaganda yang menetukan isi dan tujuan yang hendak dicapai.
d.      Pesan tertentu yang telah di-“encode” atau dirumuskan sedemikian rupa adar mencapai tujuannya yang aktif.
e.       Sarana atau medium (media), yang tepat dan susuai atau serasiu dengan situasi dari komunikan.
f.       Teknik yang seefektif mungkin, yang dapat memberikan pengaruh yang secepatnya dan mampu mendorong komunikan melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginan atau pola yang ditentukan oleh komunikator.
g.      Kondisi dan situasi yang memungkinkan dilakukannya kegiatan propaganda yang bersangkutan.

·         Teknik Propaganda
a.       Name-Calling :Propagandis menyentuh simbol-simbol emosional kepada seseorang atau sebuah negara.  Targetnya  diharapkan merespon  sesuai  yang dikehendaki  propagandis tanpa   perlu   memeriksa   lagi   atau   mencari   bukti-bukti.   Dengan   demikian propagandis melancarkan semacam stereotipe kepada sasarannya.Dalam hal  ini muncul istilah komunis menjadi “merah”, pemimpin buruh menjadi “bos serikat buruh” dan pemeritah konstitusional menjadi klik pemerintah.
b.      Glittering Generality :Ini  mirip dengan   teknik  nomor  pertama  namun digunakan  untuk melukiskan sebuah gagasan atau kebijakan bukannya  individu.   Istilah “dunia bebas”  (free world)   adalah   generalitas   favorit   propagandis   Barat.   Sedangkan   “solidaritas sosialis”   dipakai   dunia   komunis   untuk  menggambarkan   hubungan   kompleks diantara negara dan partai  komunis.  Sementara  itu “jiwa Afrika”  (the African soul) diharapkan mencipta citra kekuatan dan persatuan.
c.       Transfer :Porpagandis berusaha mengidentifikasikan sebuah gagasan, pribadi, negara atau kebijakan dengan hal lain untuk membuat sasaran propaganda setuju atau tidak setuju. Salah   satu   caranya   adalah   membangkitkan   kebencian   sikap   rakyat beragama   terhadap   komunis   yang   menyamakan   dengan   ateisme.   Komunis biasanya menyamakan kapitalis dengan dekadensi (kemerosotan) dan anti semit dengan   harapan  menciptakan   dukungan   publik   karena  menyamakan   yahudi dengan komunis.
d.      Plain Folks :Propagandis sadar bahwa masalah mereka terhambat jika mereka tampak di mata audiensnya   sebagai   “orang   asing”.   Oleh   sebab   itu   mereka   berusaha mengidentifikasikan   sedekat  mungkin   dengan   nilai   dan   gaya   hidup   sasaran propaganda dengan menggunakan slang, aksen dan idiom lokal.
e.       Testimonial :Di  sini  propagandis  menggunakan pribadi  atau  lembaga yang dapat  dipercaya untuk mendukung atau mengkritik sebuah gagasan atau kesatuan politik. Variasi  dari   propaganda   ini   adalah   “mengkaitkan   dengan   yang   memiliki wibawa/kekuasaan”   dimana   sasaran   propaganda   akan   mempercayai   sesuatu karena sesuatu yang memiliki “otoritas” mengatakan hal itu.
f.       Selection :Hampir semua propagandis bahkan ketika menggunakan teknik lain seperti diulas sebelumnya tergantung pada seleksi fakta, meskipun jarang sangat spesifik dalam  isi faktanya. Ketika presentasi rinci diberikan, propagandis menggunakan hanya fakta-fakta yang tersedia untuk “membuktikan” sasaran yang telah ditentukannya.

MEDIA MASSA
Media massa atau Pers adalah suatu istilah yang mulai dipergunakan pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Kata media berasal dari bahasa latin Medius yang secara harafiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Sedangkan kata massa menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) ialah sejumlah besar benda (zat dsb) yg dikumpulkan (disatukan) menjadi satu (atau kesatuan). Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah ini sering disingkat menjadi media.
Masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah memiliki ketergantungan dan kebutuhan terhadap media massa yang lebih tinggi daripada masyarakat dengan tingkat ekonomi tinggi karena pilihan mereka yang terbatas. Masyarakat dengan tingkat ekonomi lebih tinggi memiliki lebih banyak pilihan dan akses banyak media massa, termasuk bertanya langsung pada sumber/ ahli dibandingkan mengandalkan informasi yang mereka dapat dari media massa tertentu.

PROPAGANDA DAN MEDIA MASSA
Tidak dapat disangkal lagi bahwa media sangat berperan dalam kegiatan propaganda. Mengingat propaganda merupakan kegiatan komunikasi untuk mempengaruhi massa, media yang paling tepat digunakan sebagai wahana untuk mencapai tujuan propaganda adalah media massa.
Berbagai hal mengenai cara bekerjanya media dalam kampanye propaganda dibahas dalam bagian ini, meliputu fungsi media massa sebagai saluran penting propaganda, peran media massa dalam kegiatan propaganda, pemimpin opini dan propagandis ditengah media massa.
·            Fungsi Media Massa sebagai Saluran Propaganda :
1.      Fungsi pendidikan dan memberikan informasi mendidik dan berguna bagi masyarakat.
2.      Fungsi hiburan yang dapat memberikan kesenangan bagi masyarakat.
3.      Fungsi pewaris atau sebagai nilai-nilai social dan budaya integrasi
4.      Fungsi pengawasan yang dapat membantu masyarakat mengawasi kehidupan social disekitarnya.

·            Peran media massa dalam Komunikasi Propagandistik
Saluran yang berperan dalam penyampaian pesan propaganda dan pesan politik meliputi media cetak dan media elektronik termasuk radio, televise, dan internet, serta Koran dinding, poster, spanduk, pamphlet, brosur bahkan demonstrasi, rapat umum, pagelaran kesenian dan kebudayaan serta kesusastraan, media tradisional, lobbying, dan rumor.
Kegiatan propaganda kerap melibatkan peran media massa karena media massa memiliki kelebihan dalam menampilkan daya pengaruh yang kuat dan jangfkauan siaran yang luas. Kedua hal ini sangat penting bagi kegiatan propaganda, khusunya propaganda politik , social, dan ekonomi. Peran media massa yang sedemikian ini terbukti dalam sepanjang sejarah. Menurut catatan sejarah, media massa Jerman pada era Nazi cukup penting perannya dalam membentuk propaganda yang dilancarkan oleh Adolf Hitler.
·            Pemimpin Opini dan Propagandis ditengah Media Massa 
·            Prinsip Propaganda di Media Massa
Tentu saja untuk mengefektifkan propaganda politik di media massa juga sangat perlu memperhatikan beberapa prinsip-prinsip umum yang diturunkan dari riset mengeni pengaruh komunikator dalam keberhasilan usaha persuasif (Dan Nimmo, 1993) :
Pertama status komunikator.Artinya setiap peran membawa status atau prestise tersendiri. Secara umum, semakin tinggi posisi atau status seseorang di tengah masyarakat, makan akansemakin mampu dia melakukan persuasi. Dengan demikian pemilihan propagandis terutama dalam media massa yang diorientasikan mencapai khalayak yang heterogen membutuhkan mereka yang punya status kuat. Misalnya saat Orde Baru, Soeharto merupakan propagandis konsep developmentalism, sementara era Orde Lama Soekarno menjadi propagandis dari tujuan revolusi.
Kedua kredibilitas komunikator. Sasaran propaganda mempersepsi para komunikator dengan beberapa cara. Sejauh mereka mempersepsi bahwa propagandis itu memiliki keahlian, kompetisi, keandalan, dapat dipercaya dan autoritas, mereka menganggap bahwa komunikator itu kredibel. Memang pada perkembangnnya khalayak media, dalam menerima pesan juga membedakan antara apa yang dikatakan dengan kredibiltas sumbernya.
Ketiga, daya tarik komunikator, hal ini meningkatkan daya tarik persuasif. Hal ini terutama berlaku pada homofili, yakni tingkat kesamaan usia, latarbelakang dll seperti dipersepsi orang. Persuasi itu sebagian besar berhasil bila orang mempersepsi komunikator seperti dirinya sendiri secara gamblang.Karena persuasi dalam hal ini propaganda politik merupakan upaya penyebaran informasi dan pengaruh satu-kepada-banyak maka instrumen teknologi yang dapat menyebarkan pesan kepada angota kelompok merupakan hal yang tepat dilakukan.Goebbels, dalam memikirkan strategi kampanye persuasifnya membedakan haltung yang mempengaruhi prilaku, sikap dan perbuatan orang.Sementara stimmung merupakan morel mereka, penerimaan dan retensi imbauan persuasif.
Berbagi pesan propagandis berhubungan dengan keefektifannya dua hal. Pertama isi pesan, hal ini menyangkut model pilihan isi yang dikemukakan dalam propaganda di media massa. Bisa jadi isi yang mengancam orang (isi membangkitkan rasa takut) akan mempersuasi kalayak dalam kondisi tertentu. Kedua struktur pesan, bisa jadi karena ,media yang dipakai adalah media massa yang memiliki keterbatasan waktu atau tempat menyebabkan penyusunan struktur pesan yang efektif dan efesien. Namun terlepas dari segala keterbatasan waktu dan tempat, propaganda di media massa bisa dilakukan secara terus-menerus sehingga menjadi suatu terpaan (exposure). Misalnya, propaganda AS melawan terorisme disampaikan lewat media-media yang berpengaruh secara internasional.Misalnya CNN, CBC, VOA dll.Hal itu juga dilakukan dengan membuat agenda setting di media-media seluruh dunia, mengukuhkan (reinforcement) kalau terorisme itu memang penggeraknya adalah orang-orang timur tengah.
·            Contoh Propaganda dan Media Massa
Misalnya saja dalam pelaksanaan pemilu beberapa media massa akan memberikan berita yang mungkin tidak netral karena beberapa alasan:
Konflik kepentingan dalam media massa karena pertimbangan pemasukan iklan. Partai-partai politik bermodal besar menjanjikan akan memasang iklan, yang berarti pemasukan uang besar untuk media, sehingga mereka cenderung untuk tidak terlalu kritis terhadap potensi pelanggaran yang dilakukan partai bersangkutan.
Konflik kepentingan dalam media massa karena pimpinan media massa menjadi pengurus/simpatisan/atau pendukung parpol tertentu. Dalam Pemilu semasa Orde Baru, misalnya, mayoritas pimpinan media massa adalah anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan pendukung Golkar. Oleh karena itu, pemberitaan mereka cenderung membesarkan Golkar dan mengecilkan partai lain. Kecenderungan semacam ini masih besar kemungkinannya terjadi pada Pemilu selanjutnya.Apalagi wartawan “bermental Orde Baru” ini sampai sekarang masih kuat bercokol di organisasi jurnalis dan di medianya.
Konflik kepentingan dalam media massa karena sebagian wartawan menjadi anggota, pengurus atau pendukung partai politik tertentu (posisi ini bisa dengan restu atau tanpa restu dari pemimpin media bersangkutan). Hal ini juga akan mempengaruhi pemberitaan mereka.
Konflik kepentingan dalam media massa karena pimpinan media bersangkutan ikut aktif sebagai kandidat dalam Pemilu, baik untuk posisi anggota DPR, DPD ataupun Presiden. Contoh yang paling menonjol adalah majunya Surya Paloh, pemimpin grup penerbitan Media Indonesia dan Metro TV, sebagai calon Presiden RI melalui Konvensi Partai Golkar. Sulit diharapkan, Media Indonesia dan Metro TV dapat bersikap fair terhadap kandidat lain, tapi akhirnya Surya Paloh tidak terpilih juga menjadi presiden.
Selain itu, dengan menggunakan teori Agenda Setting media berusaha membuat penting sebuah sajian informasi. Sehingga, menghasilkan masyarakat yang terpengaruh karena dengan begitu pula masyarakat dapat dengan mudah saja mengikuti dan menyetujui apa yang disampaikan dalam media massa.
Media massa membuat penting isu-isu yang diangkat walaupun tak sepenuhnya dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan demikian masyarakat seolah membutuhkan pesan dan informasi yang pada akhirnya mengubah pemikiran dan bahkan kebudayaan dalam masyarakat tersebut.
Dalam kaitan cara media menghubungkan masyarakat dan fakta sebenarnya (realitas), McQuail menjelaskan media massa berperan sebagai:
Jendela pengalaman yang meluaskan pandangan dan memungkinkan kita untuk mampu memahami apa yang terjadi di sekitar kita, tanpa campur tangan pihak lain atau sikap memihak. Juru bahasa yang menjelaskan dan memberi makna terhadap peristiwa atau hal yang terpisah dan kurang jelas.Pembawa atau pengantar informasi atau pendapat.Jaringan interaktif yang menghubungkan pengirim dengan penerima melalui pelbagai macam umpan balik.
Papan penunjuk jalan yang secara aktif menunjukkan arah, memberikan bimbingan atau instruksi.Penyaring yang memilih bagian pengalaman yang perlu diberi perhatian khusus dan menyisakan aspek pengalaman lainnya, baik secara sadar dan sistematis maupun tidak.
Cermin yang memantulkan citra masyarakat terhadap masyarakat itu sendiri; biasanya pantulan citra itu mengalami perubahan atau distorsi karena adanaya penonjolan terhadap segi yang ingin dilihat oleh para anggota masyarakat atau seringkali pula segi yang ingin mereka hakimi atau cela.Tirai atau penutup yang menutupi kebenaran demi pencapaian tujuan propaganda atau pelarian dari suatu kenyataan (escapism).Yang terakhir ini seharusnya dihindari.

                                                     BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Media massa dan Propaganda memang terkait satu sama lainnya. Media massa menjadi unsur terpenting dalam kegiatan komunikasi propaganda untuk menjalankan berbagai kepentingan tertentu. Kepentingan-kepentingan inilah yang kemudian menjadi maslaah karena kerap kali disebarkan dengan tak berimbang
Kegiatan Propaganda yang dipakai pada media massa dipakai dengan menggunakan cara agenda setting dan berbagai tekniknya, biasanya dipakai dengan cara-cara yang kotor seperti Black Propaganda pada pemilu misalnya. Pada perhelatan tersebut Propaganda dipakai untuk meruntuhkan dan menjerumuskan lawan politiknya.
Hampir sama dengan Propaganda di kancah politik, dalam melancarkan peperangan pun kemudian Propaganda dipakai sebagai jalan untuk menciptakan kerusuhan, dan rasa tidak percaya seorang pemimpin atau lembaga tertentu. Sebagai contohnya yang lain, yakni ketika Amerika sedang mengadakan penyerangan terhadap Irak sebagai usahanya untuk menciptakan kedamaian. Amerika menyuarakan Propagandanya terhadap publik internasional dengan menuduh Saddam Husein (Presiden Irak) sebagai seorang yang jahat, yang berusaha membuat bom pemusnah masal berupa nuklir.Maka, Propaganda yang diusung Amerika ini ternyata berhasil walaupun pada kenyataanny tuduhan bom tersebut tidak terbukti adanya.
Sehingga dengan demikian penulis pun menyimpulkan bahwa media massa baik itu audio, visual, ataupun audia visual merupakan jantung dari propaganda, yang dengannya dapat merubah cara berpikir bahkan idieologi seseorang dan bahkan masyrakat secara luas.
SARAN
Demikian sentralnya media massa dalam mempengaruhi masyarakat hendaknya dibarengi dengan informasi yang berimbang dengan tidak menjadikan Propaganda sebagai agenda setting dalam sebuah media. Karena dengan Propaganda anggapan yang ada yang sebenarnya fiktif bisa dipercaya begitu saja tanpa adanya verifikasi terlebih dahulu.

Propaganda di lain hal juga berisi hanya sebagai penyampai kepentingan-kepentingan tertentu. Sehingga dengan demikian propaganda yang ada harus di waspadai dan tidak begitu saja merangsek masuk pada media massa, yang pada akhirnya hanya menjadikan media sebagai alat untuk mempengaruhi belaka.

 DAFTAR PUSTAKA









Tidak ada komentar:

Posting Komentar